Ariel Levy: Female Chauvinist Pigs
Saturday, October 29th, 2005Ketika melihat Courier-Mail edisi selasa 25 October di Common Room Ritchie Building UQ, ada sesuatu yang eye catching di halaman depan walopun tulisannya gak terlalu besar: "Female Chauvinist Pigs". Head line yang paling menarik dan memancing untuk membaca artikelnya dibanding general vacancies yang selalu jadi favorite. Alex Murdoch sedikit me-review buku tersebut yang judul lengkapnya Female Chauvinist Pigs, Women and the Rise of Raunch Culture oleh Ariel Levy, dengan head line Flashy becomes Trashy. Dipampang gambar-gambar rada seksi: Britney Spears, Paris Hilton, dan Cameron Diaz lagi nunggingin pantatnya dan satu lagi Jenna Jameson (penulis How to Make Love Like a Porn Star) seorang porn star juga. Di paling bawah artikel ini ada tulisan kecil tentang informasi kalo Levy datang ke Brisbane Jumat 28 October di toko buku "Avid Reader" di west End. Penasaran, seperti apa sich ketemu sama author dan minta autograph-nya ditulisin dibukunya yang kita beli? Kebetulan judul bukunya juga menarik dan memancing keingintahuan ya kayaknya wajib datang.
Karena penasaran tadi, jadi semuanya musti disiapin buat datang walopun jadwalnya bertepatan dengan buka puasa dan les Inggris yang harus keluar lebih awal demi mengejar si Ariel. Lara juga ikut, gak papa lah, ini juga bagian dari pendidikan secara tak langsung untuk mencintai buku dan kegiatan di toko buku. Mana ada di Indo kegiatan seperti ini, walopun ada pasti at least yang lokal. Ini adalah kali pertama mengikuti kegiatan seperti ini. Waktu itu udah maghrib, pas dilihat waktunya, ternyata mulainya jam 6.30. Audience yang datang semua bule, gak ada orang Indo sama sekali, rada-rada gal pede nich, tapi cuek aja, mereka appreciate kok. Kursi-kursi sudah disiapkan dan di row paling depan disediakan tiket gratis nonton film terbaru dari Mexico biar orang-orang mau duduk di depan kali ya. Semua tertib sambil nunggu Ariel levy
Ariel Levy datang setelah hampir semua audience duduk, dengan berpenampilan rapi, tanpa make up dan modest. Dia berbicara blak-blakan tanpa sensor yang membuat ketawa banyak orang. Dia adalah seorang Jurnalis dari New York yang menulis buku ini tentang ide-idenya yang cukup revolusioner di duni per-feminism-an. Sepertinya pengaruh orang tuanya cukup berkontribusi sehingga dia bisa menulis buku seperti ini. Ibunya penggemar setia women’s conciousness-raising group selama 24 tahun dan ayahnya adalah konsultan untuk planned parenthood.
Dengan buku ini ditulis, bermunculanlah ide-ide baru tentang konsep feminism. Dia bilang buku ini bukan untuk menghakimi para feminist yang gagal mengibarkan benderanya tapi supaya perempuan berfikir. Katanya "The whole concept of failing is part of the reason I think so many young women decided to rebel against feminism in this way and decided to embrace raunch culture. Because it just seemed free-wheeling and fun … and they did’nt want to worry if they were behaving in a way that’s politically correct." Feminism selalu dijadikan konsep sebagai equality, seperti dalam buku ini, perempuan ingin menyamakan dengan laki-laki dalam hal penikmatan sex gaya laki-laki, contohnya perempuan sendiri yang menikmati exposur-exposur pornography. Parahnya lagi, ketika laki-laki hanya menikmati pornography, perempuan tidak hanya menikmati tetapi meniru baik itu dari penampilan dengan baju-baju minim atau prilaku yang bitchy. Bagaimana tidak, dengan begini perempuan menuju titik terendah martabatnya. Dia menggunakan kata Female chauvinist pigs karena dia melihat kecenderungan chauvinist pigs ini sekarang dilakukan kaum perempuan demi menyamakan ‘derajat’ dengan laki-laki. Sebenarnya yang dikatakan chauvinist pigs itu adalah laki-laki yang menganggap perempuan tidak lebih dari seonggok daging tanpa jiwa. Sekarang, menurut dia, perempuan pun sama-sama menganggap makhluk sejenisnya seperti para chauvinist pigs. Ketika ada audience yang bertanya kenapa yang dipakai kata chauvinist pigs dalam bukunya? dan tidak pula dibahas secara detail tentang phrase ini. Levy menjawab "It was like a joke" karena memang ‘chauvinist pigs’ refer to laki-laki. Mana ada perempuan yang chauvinist pigs? katanya. Saya ingin menuliskan quote dari bukunya "Raunch provides a special oportunity for a woman who wnat to prove her mettle. It’s in fashion and it is something that has traditionally appealed exclusively to men and actively offended to women, so producing it or participating in it is a way both to flaunt your coolness and to mark yourself as different, tougher, looser, funnier — a new sort of loophole woman who is "not like other women," who instead "like a man." Or more precisely, like a Female Chauvinist Pig."
Dalam konsep barat, perempuan dianggap liberating dan memperjuangkan bendra feminism kalo mereka bisa menyamai semua tindak-tanduk laki-laki yang tidak bisa dilakukan perempuan - termasuk menikmati perempuan juga. Perempuan ingin dipersepsikan powerful kalo bisa melakukan apa yang dilakukan laki-laki.


