Input

This piece of inspirational writing was taken from the IISB Mailing list as an indirect response upon my provoking curiousness.

Pada hakikatnya, kita semua sedang berjalan menuju Tuhan. Ada beragam
jalan, metode maupun pengalaman berbeda yang kita alami dan rasakan.
Banyak yang sudah merasa sampai ke tujuan; namun banyak pula yang
terus menerus berputar-putar tak tentu arah, atau hanya berjalan di
tempat, atau boleh jadi berjalan tanpa tujuan dan kemudian hilang
tersesat di tengah perjalanan. Sutardji Calzoum Bachri menuliskan
kesaksiannya:

aku telah menemukan jejak
aku telah mencapai jalan
tapi belum sampai Tuhan

berapa banyak abad lewat
berapa banyak isyarat dapat
berapa banyak jejak menapak
agar sampai pada-Mu

Di bangku madrasah dulu (sekitar 20 tahun yang silam), saya menemukan
bacaan menarik yang disodorkan kawan saya. Untuk pertama kalinya saya
berkenalan degan literatur tasawuf. Saya yang dibesarkan dalam tradisi
fiqh tiba-tiba serasa mi’raj ke langit tujuh membaca kitab yang
bercerita ttg dunia akherat dan alam ghaib. Ketika saya ceritakan pada
ayahanda, beliau terkejut dan melarang saya membaca buku tsb. Beliau
lantas mencoba menarik saya kembai turun ke bumi, dan menyarankan saya
membaca buku karya Buya Hamka: Tasawuf Modern.

Alih-alih berjalan menuju Tuhan dengan segala konsep yang mengawang
dan sukar dicerna akal, lewat karyanya Buya Hamka mengajarkan saya
untuk berjalan menuju Tuhan dengan pendekatan akhlak. Saya beralih
dari tasawuf falsafi menuju tasawuf akhlaqi.

Tapi saya belum merasa sampai menuju Tuhan. Seiring perjalanan
pendidikan saya, saya kemudian kembali berkenalan dengan karya-karya
Maha Guru Tasawuf semisal Ibn Athaillah, Al-Ghazali, Ibn Arabi bahkan
saya membebaskan diri saya untuk turut membaca Thus Spake Zarathustra
                            karya Friedrich Nietzsche.

Saya belajar menyeimbangkan antara tasawuf yang berdimensi filsafat
dengan tasawuf yang berdimensi akhlak. Saya juga berusaha
menyeimbangkan antara fiqh dan tasawuf; antara pendekatan lahir dan
batin. Seolah-olah satu kaki menepak di bumi, dan kaki satu lagi
menjejak di akherat.

Keseimbangan langkah menuju Tuhan. Kerendahan hati menyadari
ke-Maha-an ilahi dan sekaligus pengendalian diri memanfaatkan potensi
akal yang diberikan-Nya.

Seperti dilukiskan oleh Tagore dalam bait-baitnya di bawah ini, Tuhan
tidak dapat didekati dengan kelancangan seolah-olah kita telah sampai
pada-Nya:

"dengan ujung terentang sayap nyanyiku, kusentuh Tapak Kaki-Mu, Yang
tak pernah kuharap terjangkau oleh tanganku."

Kerendahan hati ini begitu pentingnya dalam proses menuju Tuhan
sehingga Tagore pun bergumam:

"Kau sembunyikan diri-Mu dalam keagungan-Mu, Gustiku,
Butir pasir dan tetes embun lebih angkuh
tampil ketimbang Engkau."

Pada saat yang sama, aturan main yang kita kenal dengan syariat Islam
juga tidak boleh dilupakan. Imam Malik berkata:

"man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa,
wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq,
wa man tasawaffa wa tafaqaha faqad tahaqaq."

[Barang siapa yang mempelajari Tasawuf tanpa Fiqih, dia adalah seorang
zindik, dan barang siapa yang mempelajari Fiqih tanpa Tasawuf, dia
adalah seorang yang fasik, dan barang siapa yang mempelajari Tasawuf
dan Fiqih, dia akan menemukan Kebenaran dan Realitas dalam Islam.]

Mereka yang anti tasawuf dan hanya mengandalkan aspek lahiriah
pemahaman mereka ttg Islam biasanya mereduksi ajaran Islam hanya dalam
dua pilihan: halal atau haram. Ini menyebabkan mereka gemar menghakimi
keyakinan orang lain. Sementara itu, kelompok tarekat, yang konon
meninggalkan syariat untk menggapai hakikat, seringkali asyik berenang
dalam lautan cinta ilahi dan melupakan kenyataan bahwa mereka masih
berada di dunia dan belum masuk kampung akherat. 

Memadukan dua hal yang berbeda dan seringkali bertolak belakang
bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun bukan berarti mustahil. Contoh:
pengarang kitab al-Mizan al-Kubra, Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani telah
berhasil memadukannya [note: kapan-kapan saya posting di sini mengenai
kitab al-Mizan al-Kubra ini, insya Allah].

Salah satu usaha untuk mewujudkan keseimbangan di atas, saya berusaha
memadukan antara dimensi fikr dan dzikr –dan belum sepenuhnya
berhasil. Saya ingin berjalan menuju Tuhan dengan sekaligus berzikir
dan berpikir.

Ali Imran ayat : 190-191

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah [DZIKR] sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan [FIKR]
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa nereka."

Inilah ulul albab. Inilah idaman kita semua sbg kelompok terpelajar
dalam Islam. Inilah tanggung jawab kita selaku Muslim dan insan akademis.

Mungkin motto-nya spt ini:

berzikir itu nikmat; berpikir itu dahsyat :-)

Leave a Reply