Archive for April, 2006

Menyayat Hati

Wednesday, April 26th, 2006

Tulisan ini dari milist iisb. Sayatan hati yang terhampar berserakan tak mampu lagi menahan nyeri di kalbu untuk terus membacanya. Kali pertama ku baca sebuah perjalanan kerinduan terindah akan baginda Rasul SAW. Biarlah kunikmati kerinduan ini. One of my best birthday present ever.

Dan, Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya
Ketika Al-Musthafa berada dihadapan
Ku pandangi pesonanya dari ujung kaki hingga kepala,
Tahukah kalian apa yang terjelma?
Cinta!
(Abu Bakar ra)

Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi.
Lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah
anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir,
kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman
manusia paripurna didatangi seorang berkebangsaan Arab
dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan
salam "Assalamu’alaikum duhai para keluarga Nabi dan
sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih
Allah?". Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak
dan berdiri di belakang pintu "Wahai Abdullah,
Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri".
Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun
suara asing semula kembali mengucapkan salam yang
pertama.

"Alaikumussalam, hai hamba Allah" kali ini Nabi yang
menjawabnya.

"Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini
sedang berada di luar?"

"Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar
suaranya"

"Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia,
pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan
penambah ramai para ahli kubur". Jawaban nabi terakhir
membuat fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis
seperti anak kecil.

"Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur,
harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang
engkau, tak akan lagi ku memandang wajah kesayangan
ayahanda" pedih Fatimah. Nabi tersenyum, lirih ia
memanggil " Sayang, mendekatlah, kemarikan
pendengaranmu sebentar". Fatimah menurut, dan Kekasih
Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya, "Engkau
adalah keluargaku yang pertama kali menyusul sebentar
kemudian". Seketika wajah fatimah tidak lagi pasi tapi
bersinar.

Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk.
Malaikat pencabut maut berparas jelita itu pun kini
berada di samping Muhammad SAW.

"Assalamu’alaikum ya utusan Allah" dengan takzim
malaikat memberi salam.

"Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah
Allah, apakah tugasmu saat ini, berziarah ataukah
mencabut nyawa si lemah?" tanya nabi. Angin berhembus
dingin.

"Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut
nyawamu, itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak
Allah memerintahkanku untuk kembali"

"Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai malaikatul
maut?"

"Ia ku tinggal di atas langit dunia".

Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan
salam kepada seseorang yang juga dicintanya karena
Allah.

"Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini" pinta
Al-Musthafa.

Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga
manusia pilihan, "Sesungguhnya pintu langit telah di
buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu
sebuah kedatangan, bahkan pintu-pintu surga juga telah
di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah
berhias menyongsong kehadiran yang paling
ditunggu-tunggu".

"Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang" sendu
Nabi, wajahnya masih saja pucat pasi.

"Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini,
bagaimana keadaan ummatku nanti".

"Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah
berfirman, "Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga
bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama
kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat
manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu
memasukinya" Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh.
Maha suci Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar cahaya.
Nabi tersenyum gembira. Betapa ia seperti tidak sakit
lagi. Dan ia pun menyuruh malaikatul maut mendekat dan
menjalankan amanah Allah.

Malaikatul maut, melakukan tugasnya. Perlahan anggota
tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu persatu tidak
bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira
itu semakin terhembus jarang. Pandangan manusia
pemberi peringatan itu kian meredup sunyi. Hingga
ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam
genggaman Malaikatul maut, Nabi sempat bertutur,
"Alangkah beratnya penderitaan maut". Jibril berpaling
tak sanggup memandangi sosok yang selalu ia dampingi
di segala situasi.

"Apakah engkau membenciku Jibril"

"Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan
sekarat ini, duhai cinta," jawabnya sendu.

Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi
kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan
perlahan "Ummatku… Ummatku….Ummatku….". Dan ia pun
dengan sempurna kembali. Nabi Muhammad Saw, pergi
dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi’ul Awal,
ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63
tahun.

Muhammad SAW, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di
masanya dan di sepanjang usia semesta, meninggalkan
gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi
peringatan kepada semua manusia, menorehkan
dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah.
Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah
alam: "demi siang bila datang dengan benderang cahaya,
demi malam ketika telah mengembang, demi matahari
sepenggalah naik", telah membumbungkan Islam kepada
cakrawala megah di angkasa sana. Ia, Muhammad SAW,
menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan
banyak kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani
kehidupan. Ia, Muhammad SAW, yang di sanjung semua
malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang
surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang
dikerjakan. Ia, Muhammad SAW yang selalu menyayangi
fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah
untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang
berkekurangan. Dan Ia, Muhammad SAW, tak akan pernah
kembali lagi.

Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia
terlunta di sana.

Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah
kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya,
menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang,
suaranya bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa.
Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah
pergi:

Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera,
Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada
empuknya tilam
Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia,
Ku tau perut mu tak pernah kenyang dengan pulut lembut
roti gandum

Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas
pembaringan
Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam
karena takut sentuhan neraka Sa’ir

Dan Umar bin Khattab r.a yang paling dekat dengan
musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus
pedang. Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk
setiap mulut yang berani menyebut kekasih
kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap
wajah-wajah para sahabat itu setajam mata pedangnya,
meyakinkan mereka bahwa Umar bersungguh-sungguh. Umar
terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang.
Umar menjadi sedemikian garang. Ia berdiri di hadapan
para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar
manusia yang dicinta.

Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya,
melangkah pelan menuju jasad manusia mulia. Langkahnya
berjinjit, khawatir kan mengganggu seseorang yang
tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok
cinta yang dikasihinya sejak pertama berjumpa. Raga
berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu
bakar hampir pingsan. Nafasnya berhenti berhembus,
tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad
wangi al-Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah
yang disayangi arakan awan, disanjung hembusan angin
dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya
selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan
jenazah pembawa berkah. Akhirnya, demi keyakinannya
kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit,
demi mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar
mengais sisa-sisa keberanian. Jemarinya perlahan
mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan
dijumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu
bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya.
Hampir tak terdengar ia berucap, "Demi ayah dan bunda,
indah nian hidupmu, dan indah pula kematianmu.
Kekasih, engkau memang telah pergi". Abu bakar
menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di
depan tubuh Nabi yang telah sunyi.

Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi
udara Madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi
mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya
selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih
‘Muhammad’. Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik
tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak
pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk
mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah selalu
saja jelas tergambar. Tiap ingin menyeru manusia untuk
menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut,
"Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku merindukanmu
kekasih". Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung
Nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang
Sang kekasih sambil menatap bola raksasa pergi di kaki
langit.

Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap
jengkal lembah madinah. Yang tak pernah bisa
diungkapkan. Semesta menangis.

***

Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha
tinggi. Purnama Madinah telah kembali, menjumpai
kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita
terindahnya. Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski
hanya dengan setitik tinta pena. Saya mengingatimu
duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa
kata. Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh
dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang
sahabat penyair dari masa mu:

Engkau adalah ke dua biji mata ini
Dengan kepergianmu yang anggun,
Aku seketika menjelma menjadi seorang buta
Yang tak perkasa lagi melihat cahaya
Siapapun yang ingin mati mengikutimu
Biarlah ia pergi menemui ajalnya,
Dan Aku,
Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu

Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam
kelengangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat
ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang
kerap berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung
Nabi memanggil semua manusia yang senantiasa
merindukan dan mencintainya. Adakah yang paling
mempesona dihadapanmu, ketika suara suci Nabi
menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak
pernah kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah yang
paling membahagiakan di kedalaman hatimu, ketika
sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga,
berada nyata di dekatmu dan menemuimu dengan senyuman
yang paling manis menembusi relung kalbu. Dan adakah
di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke
angkasa, ketika jemari terkasih menggapaimu untuk
memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab
neraka. Adakah sahabat???

Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak
matamu, berbahagialah, karena mudah-mudahan ini sebuah
pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan, ketika kau
tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu
menyimpan cinta itu di dasar hatimu.

Salam saya, untuk semua sahabat. Mari bersama
bergenggaman, saling mengingatkan, saling memberikan
keindahan ukhuwah yang telah Rasulullah tercinta
ajarkan. Mari Sahabat!

Kepada semua sahabat yang merindukan Al-Musthafa

The power of language will make different meaning in any narrative texts.

Quotes of the Week

Friday, April 21st, 2006

The dynamic relationship between thought and language:

"The relation of thought and language is not a thing but a process, a continual movement back and forth from thought to word and from word to thought …. Thought is not merely expressed in words; it comes into existence through them. (Vigotsky 1962, p.62[in Kerns 200])

Semester Break

Friday, April 21st, 2006

This week is the time to take a deep breath after several hectic weeks doing all my assignments. Assignments after assignments were really occupying my mind. Not long after I handed in my assignment, the lecturer gave me another one and later in some following weeks the last assignements are due. Oh my God, this is how it feels studying overseas. I had a thought about how hard studying abroad but in fact the reality is even harder than I thought. However, I enjoy this all bits and pieces about my study in UQ. This is going to be my precious experience for my whole life if I couldn’t reach any further degree.

It was totally different way studyig in my country and here in UQ. The system of learning, the making meaning of each course is becoming the focus of study. How could it become like this? Do you think Indonesia will reach this point?

Anyway, some entertaining activities have been filling up my semester break, starting from the beginning of the week for a Bryon Bay trip.Cnv0206  It was fun but the time was too short to swim and have fun in the beach. I decided not to swim though i really wanted to. The next fun thing is going to be my friends’ daughter birthday, Barbeque with Uqisa and Farewell party with my devastated bosses on Sunday in Guyatt park.

What’s next? My presentation is due on Monday, Dough!

BB posting

Wednesday, April 12th, 2006

This is my bb posting.

We are now have already been English teachers and have decided to be English teachers – at least by taking this course [EDUC7032] - because subconsciously we admit ourselves to the invasion of the spread of English. English has a power; do you still remember when we decided to choose TESOL or English language education to be our major when we started entering University? Tell me honestly for what reason we chose English Language education or TESOL as our major?

The spread of English has been flourishing since the colonialism began until the present time and may be by the end of the world? We can not deny the market of English is highly demanded in a non-English spoken country as it was justified by Brutt-Griffler (2002) with his term of world econocultural system. This term is supported by Phillipson and Skutnab-Kangas in Penycook (2000:114) saying that U.S, UN, World Bank, IMF and some more world policy organisation use English as their dominant language and consider to be a big business commodity around the world, as if everybody does not have any choice to choose other language if he/she wants to be involved in the globalisation. For example in Indonesia, those who can speak English are considered to have a higher status because some simple examples like understanding English news, English movies, English books, magazines and any other media will be, at least, empowering those who master the language compare to those who are not able to use English. Then everybody try to learn English to get the higher strata of life such as getting a job easily, getting an access to the source of information in English to get the most up-to-date information and so forth.

Knowing this condition, we can see that we are trapped into colonialism. We, as a second language user (teacher and learner), have to take for granted for being victimised by colonialism. Ironically, the victims are quite pleased and even pursuing the power which was derived from colonialism. In other words, colonialism has been successful in giving the impact to the colonised society. Let me point out my view, there are two sides of images for the colonised society that can be reflected as oppressed and empowered society (colonialism hold the power) as Phillipson’s belief to be “English Linguistic Hegemony” (Pennycook 2000: 133). The oppressed society might find a way to be used against the colonialism that might be post-colonialism. But I’m not sure the idea of post-colonialism came from the oppressed society or from the power holder of colonialism. The other group, the empowered society will act "the show must go on" because they have been ‘lullabied’ by the colonialism.

However, there is a counter argument to reconcile those who are oppressed; Post-colonialism. The term Post-colonialism which promote the ability to empower themselves by valuing what they have.  Apparently, post-colonialism is created to be an anitidote for an apologetic expression to the colonised society. In my point of view, post-colonial appear to eliminate the colonialisms while somehow colonialism, inevitably, does still exist and would have never been eliminated. A very clear illustration of colonialism has just happened in front of our very own eyes as every Commonwealth countries have been celebrating the Commonwealth Game in

Melbourne

two days ago.

Source:

Pennycook, A.(2000). English, politics, ideology: From colonial celebration to postcolonial performativity. In T.Ricento (Ed.) Ideology, Politics and Language Policies: Focus on English (pp. 107-119). Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins.

Brutt-Griffler, J. (2002). The becoming of a world langauge. In World English: A Study of  Its Development (pp.107-125). Clevedon

UK

: multilingual Matters.

First Milestone

Wednesday, April 5th, 2006

Tue, Apr 04, 2006 — Presentation on Critical Literacy
 

Critical Issues in Advertisements in Indonesia (Afiani Astuti & Istanti Hermagustiana)

An introduction to issues of critical literacy using Indonesian ‘cigarette’ brand creation material as an example. 
Course Link:  Learning Materials / Student Presentations / Critical Issues in Advertisements in Indonesia